Pertanggungjawaban Influencer Dalam Transaksi Jual-Beli Produk Kecantikan Yang Mengandung Zat Kimia Berbahaya Bagi Konsumen Ditinjau Dari Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen (Studi di Lembaga Perlindungan Konsumen Republik Indonesia DPC Kota Tangerang)

Savira Silmidhafin, . (2025) Pertanggungjawaban Influencer Dalam Transaksi Jual-Beli Produk Kecantikan Yang Mengandung Zat Kimia Berbahaya Bagi Konsumen Ditinjau Dari Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen (Studi di Lembaga Perlindungan Konsumen Republik Indonesia DPC Kota Tangerang). Other thesis, Universitas Pamulang.

[img] Text
COVER.pdf
Restricted to Registered users only

Download (966kB)
[img] Text
BAB I.pdf
Restricted to Registered users only

Download (257kB)
[img] Text
BAB II.pdf
Restricted to Registered users only

Download (302kB)
[img] Text
BAB III.pdf
Restricted to Registered users only

Download (198kB)
[img] Text
BAB IV.pdf
Restricted to Registered users only

Download (270kB)
[img] Text
BAB V.pdf
Restricted to Registered users only

Download (138kB)
[img] Text
JURNAL.pdf
Restricted to Registered users only

Download (171kB)

Abstract

Influencer, yang sering dikenal sebagai publik figur atau selebriti, memiliki peran yang sangat besar dalam dunia pemasaran dan periklanan. Mereka sering kali bekerja sama dengan merek untuk mempromosikan produk melalui endorsement, postingan bersponsor, atau ulasan produk di media sosial. Dalam era digital, platform seperti Instagram, TikTok, dan YouTube memberikan kesempatan bagi influencer untuk memengaruhi pengikut mereka, menjadikan mereka agen pemasaran yang sangat efektif. Salah satu strategi pemasaran yang populer adalah endorsement, di mana influencer merekomendasikan produk atau layanan tertentu kepada pengikutnya dengan tujuan memengaruhi perilaku konsumen dan meningkatkan penjualan. Meskipun endorsement memberikan keuntungan bagi pelaku usaha dan influencer, pelaksanaannya harus didasarkan pada prinsip transparansi dan kejujuran agar tidak menyesatkan konsumen. Masalah mulai muncul ketika masyarakat tidak mengetahui apakah influencer benar-benar menggunakan produk yang dipromosikan atau sekadar menjalankan kontrak iklan. Sebagai contoh, beberapa kasus melibatkan influencer yang mempromosikan produk kecantikan mengandung bahan berbahaya, yang memicu kekhawatiran publik terkait keamanan produk tersebut. Kasus semacam ini menyoroti pentingnya pengawasan yang lebih ketat dalam industri ini, guna mencegah kerugian bagi konsumen. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi tanggung jawab influencer dalam transaksi jual-beli produk kecantikan yang mengandung bahan berbahaya, serta peran Lembaga Perlindungan Konsumen dalam menanggapi masalah tersebut. Dengan menggunakan pendekatan empiris, penelitian ini mengumpulkan data melalui studi kepustakaan, wawancara, dan dokumentasi untuk menganalisis sejauh mana influencer dan lembaga terkait dapat memastikan perlindungan konsumen dalam industri ini. Temuan penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan mengenai peran penting transparansi dalam praktik pemasaran influencer dan perlindungan hak-hak konsumen.

Item Type: Thesis (Other)
Uncontrolled Keywords: influencer, endorsement, perlindungan konsumen, pemasaran digital
Subjects: K Law > K Law (General)
Divisions: Faculty of Law, Arts and Social Sciences > School of Law
Depositing User: Mahlil Muhammad
Date Deposited: 02 Jun 2026 07:37
Last Modified: 02 Jun 2026 07:37
URI: http://repository.unpam.ac.id/id/eprint/19914

Actions (login required)

View Item View Item